MENANAMKAN KECERDASAN EMOSIONAL (EQ)



Photobucket Menurut kamus The American College Dictionary, emosi merupakan suatu keadaan afektif yang disadari dan dialami, misalnya perasaan seperti gembira, sedih, takut, benci, dan cinta. Selanjutnya  L. Crow dan A. Crow mendefenisikan emosi sebagai pengalaman yang efektif yang disertai dengan penyesuaian batin secara menyeluruh, dimana keadaan mental dan fisiologi sedang alam kondisi yang meluap-luap. Sementara Kaplan dan Shaddocks mengatakan emosi adalah keadaan perasaan yang kompleks yang mengandung komponen kejiwaan, badan, dan perilaku yang berkaitan dengan affect dan mood.  Affect merupakan ekspresi sebagai tamak  oleh orang lain dan dapat bervariasi sebagai respon terhadap perubahan emosi, sedangkan mood adalah suatu perasaan yang meluas, meresap dan terus menerus yang secara subjektif dialami dan dikatakan oleh individu dan juga dilihat oleh orang lain.

Kecerdasan emosi atau Emotional Quotation (EQ) meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikan. Kecerdasan emosi dapat juga diartikan sebagai kemampuan mental yang dapat membantu kita mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut.

Jadi, orang yang cerdas secara emosi bukan hanya memiliki emosi atau perasaan-perasaan, tetapi juga memahami apa artinya. Dapat melihat diri sendiri seperti orang lain melihat kita, mampu memahami orang lain seolah-olah apa yang dirasakan orang itu kita rasakan juga.

Dalam banyak situasi, EQ memiliki pengaruh yang lebih besar dengan IQ. EQ merupakan pendukung dari keputusan yang baik, bukan IQ atau kecerdasan intelektual semata. Dalam dunia pendidikan, Siti Suwadah Rimang (Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar) mengakatan pengembangan EQ dalam dunia pendidikan masih tergolong lemah, semuanya lebih memperhatikan pada peningkatan IQ, sehingga para guru hanya melahirkan anak didik yang pintar namun tidak mampu mengatasi persoalan akhlak yang sangat erat kaitannya dengan emosional anak didik. Tidak sedikit guru yang memberi anggapan bahwa tugas tersebut merupakan tugas dari seorang guru pelajaran agama, padahal semua tugas  dalam mendidik anak didik adalah murni tugas semua yang berada dalam lembaga pendidikan.

Beliau memberikan sebuah contoh kasus disebuah negara maju dimana terdapat seorang anak didik yang luar biasa cerdasnya yang kemudian melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan kedokteran, pada suatu hari dia diberikan kesempatan untuk mengoperasi seorang pasien, namun pada saat melakukan operasi dia malah menyayat-nyayat pasiennya dengan sadis sampai akhirnya pasien itu meninggal dunia. Ini artinya, IQ memang sudah bagus akan tetapi kecerdasan emosional tidak dimilikinya, sehingga orang lainlah yang menjadi korban.

Tidak ada standar tes yang resmi dan baku dalam mengukur EQ seseorang. Namun, kecerdasan emosi dapat ditanamkan dan ditingkatkan pada perilaku anak didik dan dampaknya dapat dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain.zhalabe.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

SiLahkan tinggaLkan komentar sebagai jejak bahwa Anda pernah berkunjung di zhaLabe.bLogspot.com.

Terima kasih !!!

(c) 2013 ZHALABE "Reading Is FundamentaL" and Powered by BLogger.